SELAMAT DATANG DI PORTAL AGARA ONLINE BUMI SEPAKAT SEGENAP. Ulang lupeken Pepatah Kalak Ndube, “ SEPAKAT SEGENEP KITE KEKHINE”, “LEPAS NI HAMBAT TADING NI ULIHI”

Pengenalan Budaya Aceh


Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aneka ragam budaya yang menarik khususnya dalam bentuk tarian, kerajinan dan perayaan/kenduri. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdapat delapan sub suku yaitu Suku Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Simeulu, Kluet, Singkil, dan Tamiang. Kedelapan sub etnis mempunyai budaya yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Suku Gayo dan Alas merupakan suku yang mendiami dataran tinggi di kawasan Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

Aceh merupakan kawasan yang sangat kaya dengan seni budaya galibnya wilayah Indonesia lainnya. Aceh mempunyai aneka seni budaya yang khas seperti tari-tarian, dan budaya lainnya seperti:Didong (seni pertunjukan dari masyarakat Gayo)Meuseukee Eungkot (sebuah tradisi di wilayah Aceh Barat)Peusijuek (atau Tepung tawar dalam tradisi Melayu)




Sastra

Bustanussalatin
Hikayat Prang Sabi
Hikayat Malem Diwa


Senjata tradisional

Rencong adalah senjata tradisional Aceh, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat lebih dekat bentuknya merupakan kaligrafi tulisan Bismillah. Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau ataupun pedang). Selain rencong, bangsa Aceh juga memiliki beberapa senjata khas lainnya, seperti Sikin Panyang, Klewang dan Peudeung oon Teubee.




Rumah Tradisional

Rumoh Aceh


Tarian

Tari Seudati
Tari Saman
Rapai Geleng
Rateb Meuseukat
Likok Pulo
Ranup Lampuan
Tarek Pukat
Tari Guel, dari Gayo
Tari Bines, dari Gayo


Makanan Khas

Aceh mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain timphan, gulai itik, kari kambing yang lezat, Gulai Pliek U dan meuseukat yang langka. Di samping itu emping melinjo asal kabupaten Pidie yang terkenal gurih, dodol Sabang yang dibuat dengan aneka rasa, ketan durian (boh drien ngon bu leukat), serta bolu manis asal Peukan Bada, Aceh Besar juga bisa jadi andalan bagi NAD.


Pahlawan

Perempuan :
Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Meutia
Laksamana Malahayati
Pocut Baren
Teungku Fakinah


Pria :
Sultan Iskandar Muda
Teungku Chik Di Tiro
Teuku Umar
Panglima Polem
Teuku Nyak Arif
Teungku Muhammad Daud Beureueh


Bangsa Aceh merupakan bangsa yang gigih dalam mempertahankan kemerdekaannya. Kegigihan perang bangsa Aceh, dapat dilihat dan dibuktikan oleh sejumlah Pahlawan (baik pria maupun wanita), serta bukti-bukti lainnya (sembilan jenderal Belanda tewas dalam perang Aceh, serta kuburan Kerkhoff yang pernah mencatat rekor sebagai kuburan Belanda terluas di luar Negeri Belanda).

Tokoh asal Aceh

Lihat pula Suku Aceh untuk tokoh-tokoh yang bukan berasal dari provinsi Aceh namun berketurunan Aceh.Sheikh Hamzah al-FansuriSheikh Nuruddin ar-RanirySheikh Abdurrauf atau lebih terkenal dengan nama Syiah KualaTun Sri LanangIsmail al-AsyiMr Teuku Mohammad HassanMohamad Kasim ArifinTeungku Hasan Muhammad di TiroYap Thiam Hien

Adat Perkawinan Aceh

Melamar

Keluarga pria yang akan melamar seorang gadis, mengutus seorang penghubung yang disebut seulangke, bila pihak keluarga wanita menerima lamaran tersebut maka pihak keluarga pria mengantarkan tanda ikatan yang disebut ranub kong baba. Tanda ikatan ini biasanya berupa barang-barang yang terbuat dari emas dan pakaian untuk si gadis. Keluarga kedua belah pihak kemudian menetapkan pula hari perkawinan dan jumlah mas kawin yang harus diberikan oleh pihak lelaki. Mas kawin ini disebut jeunameu.

Persiapan Perkawinan

Menjelang pernikahan, sang gadis dipingit selama satu bulan. Selama itu pula sang gadis dibimbing cara-cara berumah tangga, juga dianjurkan agar tekun mengaji.
Dua hari sebelum pernikahan, pihak keluarga wanita mengadakan upacara mandi dengan air bunga bagi sang gadis. Hal ini dimaksudkan sebagai pembersih dosa bagi calon pengantin wanita, di samping sebagai pengharum badan. Setelah itu, pihak keluarga wanita mengadakan pula upacara koh andam, yaitu upacara membersihkan anak rambut ditengkuk, dahi, dan merapikan alis mata, juga menginai kuku-kuku menjadi merah dan memerahkan bibir dengan memakan sirih.

Upacara Pernikahan

Sebelum upacara pernikahan dilangsungkan, calon pengantin perempuan atau dara baru akan memperlihatkan kemampuannya menamatkan pembacaan kitab suci Al- Quran. Kemudian, ayah kandung calon pengantin perempuan memimpin upacara pernikahan atau ijab kabul.
Setelah itu, Pihak keluarga Pengantin Pria menyerahkan jeunameu atau mas kawin berupa sekapur sirih, seperangkat kain baju adat, dan emas paun. Emas paun adalah uang emas kuno seberat 100 gram. Sebelum kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan, keluarga mengadakan upacara menginjak telur yang dilakukan oleh pengantin lelaki.

Pakaian Pengantin

Pengantian pria memakai celana panjang yang disebut cekak musang, kain sarung yang disebut pendua serta kemeja belanga pakai bis benang emas, dan memakai kopiah yang disebut makutup dan sebilah rencong terselip di depan perut.
Pengantin perempuan memakai celana panjang cekak musang, baju kurung sampai pinggul, dan kain sarung. Perhiasan berupa kalung yang disebut kula, pending, gelang tangan, serta gelang kaki

ads

Ditulis Oleh : Saydina Selian Hari: 07.04 Kategori:

0 comments:

Posting Komentar

 

VISITOR